Setelah saya baca tentang manajemen strategi, manajemen strategi adalah kegiatan untuk membantu proses suatu organisasi dalam mengidentifikasi apa yang ingin mereka capai, sehingga memperoleh hasil yang bernilai. Dalam perekonomian yang global ini peranan manajemen strategis pada masa - masa ini sangat diperlukan dibanding pada masa - masa sebelumnya. Dikarenakan banyak perusahaan barang dan jasa mengalami pergerakan secara bebas dalam berbagai negara - nagara. Untuk itu perusahaan atau suatu organisasi harus lebih kompetitif dalam persaingan untuk meningkatkan laba diatas rata - rata. sehingga dengan menggunakan manajemen strategis ini perusahaan atau suatu organisasi akan lebih memahami persaingan yang kompetetitif secara konsisten.
Kasus Manajemen : Ulasan Analisa Efektivitas Strategi Produk Telkom Speedy
Hal menarik dari jasa akses internet broadband Speedy milik Telkom ini, terletak pada varian paket layanan yang ditawarkan ke konsumen beserta tingkat harganya yang jadi lebih beragam. Pada saat ini, Speedy di tawarkan oleh Telkom dengan rentang harga dan kualitas yang cukup lebar, dengan menggunakan uses sebagai basis offeringnya. Ini adalah kreativitas baru, dimana sebelumnya differensiasi layanan biasanya didasarkan pada user type. Namun intinya, perusahaan ingin melayani konsumen dari mulai yang terendah sampai dengan yang tertinggi. Ini adalah menebar jala yang diharapkan dapat menangkap berbagai ukuran ikan. Buat yang terbatas anggarannya, dapat mencoba paket mail sedangkan yang punya dana besar dapat menggunakan paket biz.
Pertanyaan yang menggelitik saya adalah apakah strategi product proliferation (dimana produk dibuat berkembang biak menjadi lebih banyak) ini cukup efektif untuk meningkatkan revenue dan pertumbuhan Telkom yang sudah mulai redup? Saya termasuk orang yang menyangsikan efektivitas strategi ini. Argumen saya adalah efektivitas strategi tidak hanya tergantung pada substansi, profil, dan kontur dari strateginya, namun dipengaruhi juga oleh magnituge dan timing dalam mengeksekusinya. Strategi yang bagus secara substansi, belum tentu berhasil jika dieksekusi pada waktu dan tempat yang salah. Dengan kata lain, efektivitas strategi akan sangat tergantung pada momentumnya. Apabila momentumnya tepat, maka kinerja strategi dijamin akan maksimal. Dalam kasus speedy, saya menduga bahwa, gempuran speedy ke pasar jasa akses internet ini sudah kehilangan momentum! Khususnya untuk masuk ke pasar individual.
Momentum masuk ke pasar sangat ditentukan oleh mood (suasana hati konsumen) yang terjadi dipasar. Jika mood pasar baik, maka tingkat penerimaan (market acceptance) terhadap produk akan bagus. Namun jika mood pasar sedang jelek, maka produk tidak akan dapat mendarat mulus di hati konsumen, malah minimal akan dicuekin, kalaupun tidak sampai dicemooh konsumen. Masalahnya, ada beberapa hal yang dapat membuat mood pasar menjadi tidak kondusif untuk memasarkan produk. Apa saja yang mempengaruhi mood konsumen? Setidaknya ada 3 hal yang sangat mempengaruhi mood pasar, antara lain yaitu : • Tingkat kepuasan pasar terhadap customer value dari produk eksisting yang ditawarkan perusahaan
• Tingkat preferensi pasar terhadap produk kompetitor yang muncul belakangan (atau lebih baru), termasuk juga produk substitusinya
• Tingkat resiko yang akan dihadapi konsumen dari adanya gejolak lingkungan makro, yang dikhawatirkan akan menggerus customer value secar sistematis
Untuk kasus Speedy, saya melihat bahwa mood pasar pada saat ini sedang tidak kondusif. Oleh karena itu, strategi poliferasi produk Telkom Speedy saat ini, tidak akan berpengaruh banyak pada peningkatan kinerja Telkom, khususnya di wilayah-wilayah dimana pasar disana sudah dimasuki oleh layanan mobile internet access dari operator seluler. Ada beberapa alasan, mengapa saya menyangsikan keberhasilan Speedy (khususnya di pasar individual), antara lain: • Kita tidak bisa menutup mata bahwa kondisi Speedy eksisting belum sesempurna yang diharapkan konsumen. Speedy masih sarat dengan kasus dan keluhan, khususnya yang terkait dengan konsistensi kualitas (tidak sesuai dengan yang dijanjikan), dan yang terkait dengan billing (khususnya yang terkait dengan paket volume dan time based). Kawan saya yang pegawai Telkom pun masih sering terkaget-kaget dapet tagihan jutaan rupiah untuk bayar konsumsi speedy nya (yang mungkin dijual dedet). Kondisi ini membuat pelanggan worry/ khawatir dan terancam. Apalagi bagi pelanggan potensial, ini adalah sesuatu yang akan cenderung menakutkan.
• Fakta sekarang menunjukkan bahwa mobile internet access, lebih representatif buat para internet user. Paket-paket penawaran akses internet dari operator seluler, jelas lebih dekat dengan kebutuhan, keinginan, dan harapan pelanggan. Trend mengakses internet dari gadget mobile adalah gaya hidup yang sedang bertransformasi menjadi sub kultur, bahkan kultur dari generasi internet (post 1980 birth decade), yang berpotensi menjadi kohort internet addicted. Bersusah payah mengakses internet dengan infrastruktur fixed, merupakan masa lalu yang sudah mulai ditinggalkan, dalam perjalanan sejarah yang linier. Akses fixed itu hanya akan menjadi kebiasaan cadangan (untuk bernostalgia) ketika Telkomsel Flash, Indosat IM2, dan produk-produk sejenis dari Excelcom, 3, dan Axis tidak bisa berfungsi secara optimal.
• Kompetisi memang tempat bergantungnya pelanggan untuk mendapatkan value produk yang sesuai harapan. Perbedaan harga antar operator dalam jasa akses internet pada saat ini tidak signifikan, Price doesn’t matter! Ada point of parity yang semakin besar dibandingkan dengan point of difference nya. Ini merupakan lubang galian kuburan yang menganga lebar, dan siap mengubur hidup-hidup produk lama yang kalah bersaing, karena kurang kosmetik dan tidak mau operasi plastik. Produk yang tidak bahenol dan tidak perez akan ditinggal konsumen yang sangat meterialistis dan duniawi. Jadi kalau tidak ada gap harga yang bikin ngiler pelanggan, jangan harap produk akan dibeli konsumen. Konsumen sekarang memang sangat pragmatis dan hedonis.
Dengan 3 kondisi di atas, cukup buat saya untuk berhipotesis bahwa strategi Speedy pada saat ini tidak akan efektif. Sebagai pemain pioneer dalam jasa akses internet, saya melihat bahwa Telkom terlalu lamban dalam menyiapkan strategi bersaingnya. Sebagai incumbent yang selalu dikeroyok pemain baru, seharusnya ada pre-emptive move yang dibangun di atas kewaspadaan dan kreativitas. Paling tidak, beberapa hal dibawah ini harus disiapkan: • Strategi harga yang makin menurun untuk menggarap 5 segmen konsumen berdasarkan prilaku adopsinya (dari mulai innovator sampai dengan laggard). Di bisnis ini karena terjadi percepatan dalam perkembangan teknologi baru maka scenario penurunan harga harus disiapkan untuk 3-5 tahun mendatang. Namun perhitungan price – volumenya harus dilakukan secara akurat agar tetap dapat mengcover fixed cost dan initial investment yang sudah dikeluarkan. Jangan sekali-sekali bermimpi ada kenaikan harga atau ada harga yg tetap.
• Inovasi produk harus dilakukan, baik pada tatanan inovasi teknologi, pada tatanan (kosmetik) feature & service, maupun pada innovasi proses bisnis. Ini diperlukan untuk membangun perbedaan yang signifikan antara Speedy dengan para pesaingnya. Kalau perlu ADSL sebagai anchor technologinya harus di innovasi atau dikombinasikan dengan teknologi lain yang lebih maju (misalnya mengkonvergensikannya dengan mobile technology)
• Strategi untuk menggarap pasar late majority dan laggard harus disiapkan secara sangat fokus. Jika perlu untuk memperluas efek komoditisasi dan membangun kemassalan produk, mungkin harus dilakukan juga reformulasi dan repositioning termasuk melakukan perubahan bisnis proses.
Semoga ada angin dan nasib baik buat Telkom Speedy … terutama untuk menggarap pasar individual yang ukurannya masih seksi dan menggiurkan !!! Selamat bertarung sampai titik darah penghabisan Telkom …
Untuk mendapatkan pengertian yang lebih jelas mengenai penjualan angsuran, maka dikutip oleh beberapa pendapat yaitu :
Menurut Erikson dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan (2008)
Penjualan Angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian bahwa sebagian harta atau seluruh harga barang yang dijual akan dibayar secara bertahap ( berangsur – angsur ) oleh si pembeli dengan tenggang waktu tertentu. Karena sifat pembayaran secara berangsur – angsur, ada kemungkinan si penjual akan menanggung resiko.
Menurut Allan R. Drebin dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan (121,1996),
Penjualan Angsuran barang dagangan adalah penjualan barang dagangan yang pembayarannya dilakukan secara bertahap dalam jumlah dan waktu yang telah ditentukan. Dan didalam penjualan angsuran barang – barang dagangan mempunyai ketentuan yaitu adanya pembayaran uang muka ( Down Payment ) serta pembayaran angsuran.
Menurut Hadori Yunus Harnanto dalam buku Akuntansi Keuangan Lanjutan ( 6,2004 )
Penjualan Angsuran adalah penjualan yang dilakukan secara bertahap yaitu pada saat barang – barang diserahkan kepada pembeli, penjual menerima pembayaran pertama sebagai bagian dari harga penjualan ( Down Payment ) dan sisanya dibayar dalam beberapa kali angsuran.
Menurut Pahala Nainggolan dalam bukunya Akuntansi keuangan yayasan dan lembaga nirlaba sejenis (137,2007 ),
Penjualan Angsuran ( pahala Nainggolan ) adalah penjualan yang dilakukan secara bertahap dengan perjanjian bahwa aktiva yang dijual akan dibayar secara angsuran atau dengan cara mencicil selama periode yang ditentukan.
Dari keempat definisi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penjualan angsuran adalah penjualan yang dilakukan dengan perjanjian dimana pembayarannya dilakukan secara bertahap ( berangsur – angsur )oleh si pembeli dalam jangka waktu yang ditentukan dan mempunyai ketentuan yaitu adanya pembayaran uang muka(Down payment)
1.1.2Jenis – jenis Perjanjian Angsuran
Untuk melindungi kepentingan si penjual atas kepentingan resiko atau tidak ditepatinya kewajiban- kewajiban oleh pihak pembeli, maka jual beli secara angsuran sering berdasarkan atas perjanjian. Perjanjian tersebut antara lain :
1.Perjanjian penjualan bersyarat ( Conditional Sales Contaract ), dimana barang-barang telah diserahkan, tetapi hak atas barang-barang masih berada ditangan penjual sampai seluruh pembayarannya pertama.
2.Pada saat perjanjian ditandatangani dan pembayaran pertama telah dilakukan hak milik dapat diserahkan kepada pembeli, tetapi dengan menggadaikan atau menghipotik untuk bagian harga penjualan yang belum dibayar kepada si penjual.
3.Hak milik atas barang untuk sementara diserahkan kepada suatu badan “trust” (Trustee) sampai pembayaran harga penjualan dilunasi. Setelah pembayaran lunas oleh pembeli baru trustee menyerahkan hak atas barang-barang itu kepada pembeli. Perjanjian semacam ini dilakukan dengan membuat akte kepercayaan.
4.Beli Sewa ( Lease-puchase), dimana barang yang telah diserahkan kepada pembeli. Pembayaran angsuran dianggap sewa sampai harga dalam kontrak telah dibayar lunas, baru sesudah itu hak milik berpindah kepada pembeli.
1.1.3Faktor – Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Penarikan Kembali
1.Pembayaran uang muka ( down payment ) harus cukup untuk menutup kemungkinan rugi sebagai turunnya nilai barang sebagai periode angsuran.
2.Jarak antar angsuran dengan angsuran berikutnya tidak terlalu lama.
3.Besarnya pembayaran angsuran periodic harus diperhitungkan cukup untuk kemungkinan penurunan nilai barang-barang yang ada selama jangka pembayaran yang satu dengan pembayaran angsuran berikutnya.
2.1.4Penjualan Angsuran untuk Barang-Barang Bergerak
Dalam pencatatan transaksi-transaksi penjualan perlu untuk membedakan antara penjualan regular ( regular sales ) dan penjualan angsuran ( installment sales ). Hal ini sangat penting bagi data untuk perhitungan laba kotor yang diakui sebagai hasil penerimaan pembayaran piutang dari penjualan angsuran.
Metode yang digunakan dalam pencatatan penjualan barang-barang bergerak adalah :
1.Metode Periodik
Harga pokok penjualan dicatat pada akhir periode sedangkan pembelian tidak langsung dicatat ke rekening persediaan. Begitu juga dalam penjualan barang rekening pesediaan tidak dicatat dalam kredit.
2.Metode Perpetual
Harga pokok penjualan baik penjualan regular maupun angsuran harus disusun secara up to date. Rekening harga pkok penjualan regular atau angsuran didebet dan rekening persediaan barang dagangan dikredit.
1.1.5Penjualan Angsuran untuk Barang - Barang Tak Bergerak
Di dalam metode angsuran atau dasar angsuran ( installment method or installment basis ) yaitu setiap penerimaan pembayaran yang sesuai dengan perjanjian dicatat baik sebagai pengembalian harga pokok ( cost ) maupun sebagai realisasi keuntungan di dalam perbandingan yang sesuai dengan posisi harga pokok dan keuntungan yang terjadi pada saat perjanjian penjualan angsuran ditandatangani. Di dalam hal ini keuntungan akan selalu sejalan dengan tingkat pembayaran angsuran selama jangka pembayaran. Metode ini memberikan kemungkinan untuk mengakui, keuntungan proporsional dengan tingkat penerimaan pembayaran angsuran.
Untuk itu, Di dalam metode angsuran ( installment method ) yang berdasarkan pengertian di atas, perbedaan antara harga penjualan ( dalam kontrak ) dengan harga pokoknya ( cost ) dicatat sebagai “Laba Kotor Yang Belum Direalisasi” ( Unrealized gross profit )
1.1.6Pengertian Bunga
Selain pengertian penjualan angsuran, ada juga pengertian bunga karena bunga juga berkaitan dengan penjualan angsuran.
Pengertian Bunga menurut Alam S, adalah peminjaman uang memungut sejumlah uang yang dibayar pada waktu yang telah disetujui, dan diperhitungkan dimuka dan diperhitungkan pada saat pelunasan.
1.1.7Bunga Pada Penjualan Angsuran
Kontrak penjualan angsuran sering menetapkan beban untuk bunga atas saldo yang terhutang, bunga ini biasanya dibayar bersama-sama dengan pembayaran angsuran atas harga kontrak
Kebijaksanaan untuk pembayaran bunga periodik pada umumnya mengambil salah satu dari bentuk sebagai berikut:
1.Bunga diperhitungkan dari sisa harga kontrak selama jangka waktu angsuran. Cara semacam ini sering disebut sebagai “Long End Interest.
Bunga yang dibebankan pada setiap kali angsuran dihitung dari saldo pokok pinjaman awal periode tersebut. Dan bunga yang dibayar setiap periode semakin lama semakin rendah atau kecil, sesuai dengan semakin kecilnya saldo pinjaman penjualan angsuran.
Maka dalam menentukan besarnya bunga, dapat diperhitungkan dengan rumus dibawah ini.
Rumus :
Bunga per periode = Bunga per tahun x 1/ lama angsuran x Sisa harga kontrak
2.Bunga diperhitungkan atas masing-masing angsuran yang harus dibayar,dari tanggal kontrak penjualan angsuran ditandatangani sampai tanggal pembayaran angsuran .cara ini disebut bunga jangka pendek “Short End Interest”
Rumus :
Bunga Per Periode = Bunga Per Tahun x 1/ Lama Angsuran x Akumulasi Angsuran
3.Pembayaran periodik dalam jumlah yang sama dan menyatakan bunga atas saldo pokok yang terhutang antara periode angsuran, sisanya merupakan pengurangan dalam saldo pokok. Metode ini disebut juga “metode annuitet” yaitu pembayaran angsuran periodic yang dilakukan dalam jumlah yang sama , dan didalamnya sudah diperhitungkan adanya pembayaran bunga atas sisa harga kontrak dan angsuran sisa harga kontrak itu sendiri selama jangka waktu perjanjian. Oleh karena itu, bunga yang dibebankankan semakin lama akan semakin besar.
Rumus :
Bunga periode = Bunga per tahun x (Sisa harga kontrak –Angsuran)
4.Bunga sepanjang periode pembayaran dihitung atas harga pokok semula.
Metode ini dikenal dengan nama “ metode flat”. Pada metode ini, perhitungan bunga yang besarannya mengacu pada pokok hutang awal dan bunga untuk setiap periode dihitung dari saldo pokok pinjaman setelah dikurangi dengan uang muka. Biasanya metode flat diterapkan untuk kredit barang konsumsi sepseti handphone, home appliances, mobil, motoratau kredit tanpa agunan ( KTA ). Dengan menggunakan metode flat ini maka porsi bunga dan pokok dalam angsuran bulanan akan tetap sama.
Sehingga rumus perhitungan bunga berdasarkan dari sisa harga kontrak ( flat ) :
Bunga untuk setiap periode = persentase bunga per tahun x periode pembayaran x Saldo pokok penjualan sebelumnya
Atau
Bunga per periode= Bunga per tahun x ( Harga jual – Uang Muka)
1.1.8Kelebihan dan Kekurangan Dalam Metode Penjualan Angsuran
1.Metode Flat
Kelebihan :
-Bagi perusahaan metode flat ini sangat menguntungkan karena perusahaan memperoleh laba yang maksimum.
-Apabila si kreditor ( peminjam ) melunasi sisa hutangnya maka kreditor harus membayar bunga sampai sisa waktu kreditnya. Sehingga perusahaan akan mendapat keuntungan.
Kekurangan :
-Dalam metode Flat ini apabila terjadi kenaikan suku bunga dalam periode berjalan, si kreditor tidak menanggung suku bunga. Maka keuntungan perusahaan akan berkurang.
2.Metode Long End Interest
Kelebihan :
-Bagi perusahaan metode ini menguntungkan karena dapat menghasilkan bunga relative besar diawal periode.
Kerugian :
-Bunga yang dibebankan oleh perusahaan setiap periode semakin lama semakin kecil sesuai dengan semakin kecilnya saldo pokok pinjaman. Sehingga berakibat keuntungan perusahaan berkurang. Apalagi jika pada periode tersebut mengalami kenaikan suku bunga.
3.Metode Annuitet
Kelebihan :
-Pada saat sisa hutang masih besar diawal periode penjualan, perusahaan sudah mengambil keuntungan yang cukup besar.
Kekurangan :
-Apabila terjadi pelunasan, kreditor hanya membayar sisa hutang tanpa membayar bunga sisa jangka waktu hutangnya. Dalam hal ini perusahaan akan memdapatkan kerugian.
-Apabila terjadi kenaikan suku bungadalam periode yang berjalan,kreditor tidak menanggung kenaikan suku bunga tersebut.